Rabu, 04 Agustus 2010

Logaritma akar. 1

"Tempel itu di jidatmu!" Kata Mr.Stuff.
Sebuah kertas bertuliskan "Idiot!" sekarang melekat di jidat Mary, sejak dia tidak bisa menyelesaikan soal logaritma akar dari Mr.Stuff di depan kelas.

Idiot! Stampel yang sama dengan Mary mungkin juga pantas melekat di jidatku sekarang. Bukan karena tidak bisa menyelesaikan soal logaritma akar yang memang sudah tidak kudapatkan lagi di bangku kuliah sejak lulus dengan mendapat predikat baik dalam Kalkulus 2,adalah  predikat idiot yg pantas ku dapatkan karena kebodohanku menyatakan perasaanku pada mantan pacarku beberapa hari yang lalu!
Bodoh, karena tak ada angin atau hujan yang mengawali kejadian itu, tidak, atau itu hanya anggapan nya dan teman-temanku yang tau.

Kesialan Mary dalam kasus logaritma akar tadi mungkin sama dengan sial yang terjadi padaku. Bedanya, Mary gagal menyelesaikan soal logaritma akar Mr.Stuff, sednagkan saya gagal dalam meletakkan logika nalar saya pada tempatnya! Well, dalam kasus Mary, dari sekian banyak murid Mr.Stuff dialah yang terpilih untuk mengerjakan soal itu di depan kelas, dan sialnya Mary tidak bisa mengerjakannya. Tak peduli  masih banyak anak-anak lain di kelas itu yg juga tidak bisa mengerjakannya, di sinilah sialnya, Mary yang ketahuan dan 'Idiot!' adalah predikatnya selama kelas Mr.Stuff berlangsung.

Dan saya? Bukan kesialan yang bisa terjadi pada siapa saja dalam sebuah sampel statistik berdasarkan perhitungan kombinasi dan peluang, tapi ini murni kesalahan koordinasi otak dengan hatiku. Dasar perempuan! -Otak dan hati gapernah sinkron! -
Iya, saya ini perempuan, se-modern apapun dunia saat ini, se-i three apapun teknologi saat ini, selalu saja ada hal-hal yang biasa yang menjadi tabu jika dilakukan perempuan. Persetan dengan emansipasi dan edukasi, gamungkin KAMU bilang SUKA duluan!!!! Fak.
Dan saya melakukan itu, kemarin. Oh My God! Why should I do Next?
Setelah dia sama sekali tidak merespon, menjawab "ya" atau "engga" pun tidak. Apa mungkin dia menganggap saya main-main?! Oooh damn. How could you be so calm?
Ini semua memang salahku. Tidak mungkin saya yang terlalu polos, atau terlalu jujur. Dalam beberapa hal, saya harus menjelaskan garis besar tanpa detail, I always simplify.

Oke, dan pada part ini mungkin dia akan merasa ragu dan berpikir, atau bahkan menolak untuk mengingat-ingat peristiwa itu. "What the f***?!" atau "Apaan sih lo?!" atau "Jangan gila deh!" dan pada akhirnya, kalimat-kalimat yang sedikit kaku saat saya meminta dia 'kembali' mendadak terasa sebagai bualan, mendadak jokes dan mendadak ga berarti, at all!

Then, what should I do next?
Haruskah saya bilang bahwa saya... serius! Bahwa kamu bikin saya malu dan kehilangan sebagian naluri kepercayaan diri saya dengan kamu yang sama sekali no coment! Oh damn, nyapa saya aja engga!
Benar-benar jokes.

Yeah, we speak in different voices. Kamu dengan duniamu, dan saya di dunia saya. Kamu berpendapat "gamungkin. bukan saya!" Is that true, or just a beat reason? Lalu kenapa dulu kita bisa?
Marilah menganggap bahwa dulu kita putus bukan karena itu atau ini, bukan kamu atau saya. Tidak ada alasan untuk membenarkan apapun atau siapun dalam hal apapun dalam situasi ini. Inilah yang dinamakan Tuhan dengan proses. Dalam proses itu apa saja bisa terjadi. Kamu yang melakukan kesalahan atau erorr pada alat yang kamu gunakan, tapi dalam hukum one way innova atau two way innova dalam statistika, atau hukum fisika dan kimia sekalipun, selalu ada koreksi dan nilai koreksi atas kesalahan-kesalahan tersebut. Dan itulah alam. Reaksi, proses, siklus.
Despite of it, I am so sorry.
Sorry for still loving you...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar