Senin, 28 Februari 2011

I'd always love the rain.


I'd always love rain. They are peaceful.
Maybe sometime you see them vicious like a storm, but if you see in the other side, they are beautiful, just the way they are.

I'd always love my time writing while enjoying the rain.
Positively, they gave me rhythm and passion to live normally...
Fall and flow, drizzle or downpour, just like them.

I'd always love the rain, but I'd never hate summer.
I'd always knew that they will always come, just the way they are. Just like you, you always came... On your own way, just the way you are.



Minggu, 27 Februari 2011

Crooked pain.

Aku sedang tidak ingin menulis malam ini. Aku ingin bersandar di bahumu. Aku ingin kamu tahu bahwa aku lemah terhadapmu. Jika aku sadar aku sangat lemah, aku akan berpaling darimu, dan aku akan mengadu pada Tuhanku. Tapi aku sedang butuh kamu. Aku rindu...

Aku ingin menulis surat padamu, tapi aku tidak yakin kamu akan membacanya. Aku ingin kamu tahu bahwa aku lemah terhadapmu. Dan jika kau sudah tahu, kau tak perlu berkata apapun. Cukup lakukan seperti yang biasa kau lakukan, menempatkanku di bahumu dan membelai lembut rambutku. Aku sayang kamu...

---Aku tak ingin kamu tahu bahwa aku begitu mencintaimu. Tapi aku terlanjur basah, kamu menempatkanku diposisi tertinggi yang bisa aku capai sebagai seorang perempuan dihadapan laki-laki, kamu memang begitu. Aku tidak ingin kamu tau bahwa aku sungguh lemah di hadapanmu. Aku sungguh lemah...

---Sayang, aku sakit... Sakit jiwa.
Kamu tau gak, suatu saat aku bisa saja mencekikmu lalu aku kabur. Aku rasa kamu tahu...
Lalu kenapa kamu masih mau menemaniku dalam sakau ku? Pergi sana!!!!


And now, I see her back away.
I see the pain each step she walk.
I saw unhappy, but she smile...
She walked away---

I saw him turn away.
He left the hand he looking for many years...
He smiling but his eyes showed pain.
He standing by---

I saw a lie.
I saw you.
I saw every detail in yours.
But I think isn't good enough.
But actually, 
I love you...

I love him.


Tuhan?

Aku sedang tidak ingin menulis malam ini. Aku ingin menangis, di bahu mu. Mengapa aku begitu lemah terhadapmu?
Tuhan, apakah aku bisa menangis di bahuMu?

Tuhan, aku menangis lagi untuk sesuatu yang seharusnya tidak kutangisi. Tuhan, aku menangisi dia, padahal aku jarang menangis ketika aku jauh dariMu...
Maafkan aku Tuhan. Tuhan, tadi setelah solat, aku berbaring di atas sajadahku, masih memakai mukena dan aku menyebut namaMu dengan hatiku. Tuhan, Kau begitu Mahabesar... Tuhan, aku rela merobek hatiku dan menanggalkannya untuk mereka. Tuhan, aku tau Kau tidak akan membiarkanku begitu, Kau tidak suka makhlukMu menzalimi oranglain, apalagi dirinya sendiri. Tuhan, apakah aku telah menzalimi orang lain? Atau aku menzalimi diriku? Tuhan, aku bahagia, kadang aku sedih, kadang aku merasa kesal, kadang aku meringis kesakitan. Tuhan, bukankah manusia Kau ciptakan dengan ribuan software rapuh yang bernama 'perasaan'? Tuhan, bukankah menurut ilmu yang kupelajari, dari jutaan software ringkih yang ada dalam tubuh dan pikiran kami, yang paling rapuh adalah cinta? Tuhan, bagaimana aku dapat menyelamatkannya sedangkan pikiranku saja ringkih karenanya? Tuhan, apakah cinta tidak perlu diselamatkan? Tuhan, apakah dia sanggup menyelamatkan dirinya sendiri? Tuhan, bila suatu saat cintaku itu pecah, dan rusak, apakah bisa diganti dengan yang lain? Tuhan, apakah jika telah diganti dengan yang baru, dia akan lebih sehat?
Tuhan
Tuhan
Tuhan
Tuhan
Tuhan
TUHAN, apakah Engkau mencintaiku?
Tuhan, sekali lagi, aku bukannya tidak mempercayaimu. Tuhan, bagaimana aku membedakannya? Yang baik dan buruk untukku, bila kotak 'perasaan'ku saja telah rusak?
Tuhan, aku tidak butuh jawabanmu untuk pertanyaanku. Tuhan, aku tahu Engkau begitu menyayangi kami, dari caramu memperlakukan kami, Engkau begitu memperhitungkan segala sesuatu, Engkau begitu teliti mengurus kami, Tuhan...
Aku ingin sekali mengirim surat padamu, bertanya padamu, apakah orangtuaku dapat kembali seperti dulu lagi?
Tuhan, apakah Engkau masih ingat, dulu aku pernah berdoa padaMu, Engkau boleh ambil apa saja dariku, asal Kau kembalikan mereka seperti dulu lagi. Tuhan, apakah sakitku ini bukan jawaban dari doaku? Tuhan, jika iya, maka kapan mereka akan berdamai? Tuhan, jika tidak, maka aku hanya punya satu harta di hidupku... Hartaku adalah napas yang Engkau tiupkan dalam ruh-ku. Tuhan, aku begitu mencintaimu, maaf apabila (memang) semua yang kulakukan selama ini membumu kesal. Tuhan, bukankah ridho Ibu dan Ayahku adalah ridhoMu? Tuhan, jika iya, mengapa mereka tidak peka dalam menuntun hamba?

Tuhan, apakah aku boleh mengirimkan surat ini?
Tuhan, Tuhan, Tuhan, aku begitu mencintai mereka... Apakah aku berlebihan, Tuhan?
Maafkan aku Tuhan... Apakah aku boleh berdamai denganMu? Maafkan aku Tuhan...

Jumat, 25 Februari 2011

Tuhan?

Ya Tuhan, saya ingin sembuh... Kenapa susah sekali. Bahkan untuk dua dan banyak hasil lab yang sama, saya masih harus merasakan keraguan orang-orang di sekitar saya?

Ya Tuhan, saya belajar. Tapi mengapa saya selalu menangis ketika hasilnya tidak sesuai dengan keinginan saya? KataMu manusia selalu harus belajar, megapa setiap gempa bumi jiwa yang Kau panggil masih saja banyak?
Ya Tuhan, kataMu itu takdir, bukankah kataMu juga manusia dapat mengubah takdir mereka sendiri asal mereka mau? Tuhan, aku mau mengubah nasibku, dan jalan hidupku... Tuhan, mengapa aku belum sembuh?
Tuhan, bukannya aku tidak yakin akan kebesaranMu, bantulah aku untuk memahamiMu lebih...
Tuhan, bukannya aku mempertanyakan keadilanMu terhadapku, berilah aku kekuatan yang lebih lagi Tuhan...

Sore.

Sore hari...
Saya paling suka sama sore. Dari serangkaian panjang dalam satu hari, pagi, siang, sore, malam, tengah malam, dini hari, dan pagi lagi, saya paling suka sore hari. Apalagi kalau sore hari itu lagi gerimis :p

Dan ada satu hal lagi yang membuat saya suka sama sore hari, gerimis atau tidak gerimis. Karena saya pikir sore hari adalah saat yang paling tepat untuk ngobrol dengan keluarga, atau kegiatan favorit saya: baca novel!
Jadi ini pernah suatu saat teman saya cerita, dia adalah penggemar pagi, berbeda sama saya yang lebih suka sore hari tentunya. Jadi dulu dia pernah bilang "Na, pagi itu awal dari segelanya. Hidup kamu di hari itu bakal baik atau enggak ditentukan dari pagi hari, apakah kamu tersenyum atau kamu bakal ngelipet muka seharian." Katanya sih itu beneran, soalnya dia pernah cerita juga, suatu hari dia bangun pagi dengan keadaan seisi rumah dipenuhi oleh keluarga jauhnya yang datang berbondong-bondong untuk menghadiri wisuda doktor Ayahnya. "Boro-boro senyum na, begitu bangun gue langsung dicekokin sama teriakan anak2 kecil yang nyiksa banget. Dan sepanjang hari itu gue gak napsu makan, kuliah, main, semua deh."
Well, kadang saya juga suka merasa hal yang sama, mood seseorang dalam menjalani satu hari ke depan bisa dilihat di pagi hari. Tapi itu semua cuma sugesti aja, gak lebih. Buktinya Pagi tadi saya terbangun dengan uang di dompet tinggal 30 ribu rupiah karena 50 ribunya saya kasih ke tukang koran buat bayar tagihan NGI bulan februari. Fyi, 30 ribu itu buat makan dan jajan sampai tanggal 1 maret, karena saya baru bakal dapet transferan uang bulanan di tanggal 1 sore atau 2 pagi. So, kalau pagi hari tadi tanggal 25, berarti masih ada 4 hari lagi untuk uang 30 ribu ini. Bagaimana mood saya tidak sangat jelek pagi itu?!

Tapi Allah sangat baik sama saya. Subhanallah, pagi itu saya harus ke kampus untuk urusan perwalian dengan dosen wali saya Ir.Henarno Pudjihardjo, MT dan begitu sampai di kampus, saya adalah mahasiswa kedua yang datang, dan saya diberi tahu bahwa anak2 2006 yang mau bimbingan skripsi datang kerumahnya. Alhamdulillah, untung aja.. Akhirnya saya dan dua teman saya meluncur menuju Krapyak, Semarang bawah yang jauh banget kalo dari Tembalang. Setelah sampai di rumahnya, beliau menyambut hangat. Alhamdulillah lagi, beliau baik banget padahal kami telat seminggu lebih perwalian dengan beliau. hihihi
Setelah deg-degan takut dimarahi dosen wali terjawab dengan balasan yang baik, saya dan teman saya menuju Laboratorium Sarana Medika di Jalan Gajah Mada Semarang utntuk mengambil hasil lab saya yang harusnya sudah diambil sekitar tanggal 18 februari kemarin. Wahhh saya kaget, ternyata hasilnya membahagiakan. Alhamdulillah, mood saya sedikit demi sedikit naik lagi, saya jadi lupa kalau uang di dompet tinggal 30 ribu! :p
Kali ini mood saya benar2 berbalik 180 derajat.. Alhamdulillah Allah mendengar doa saya dan keluarga dan semua orang yang mendoakan saya segera sembuh. Untuk kedua kalinya, di lab yang berbeda, dengan hasil yang sama: NEGATIF (-). Dan Insyaallah saya dinyatakan sembuh! Alhamdulillah...

Sore ini saya pergi dengan mengendarai motor saya ke daerah Banyumanik, Semarang menemui Bu Datin, saya rutin kerumahnya untuk suntik, tapi kali ini berbeda, saya membawa kabar yang saya sendiri bingung harus mengabarkan dengan cara apa. Saya sangat bersyukur Allah mengirimkan orang-orang baik disekitar saya, orang-orang yang membantu saya, dan bersyukur untuk sebagian yang tidak membantu, untuk sebagian yang menyindir, untuk sebagian yang ini dan yang itu. Karena setiap harinya Allah memberikan saya rezeki ilmu, ilmu sabar, ilmu tawakal dan ilmu-ilmu lainnya lewat mereka.

Sore ini berbeda dengan sore-sore lainnya karena saya sendiri, dan saya bersyukur. Saya sedang menulis, dengan majalah NGI disamping saya yang sudah menunggu untuk saya baca, saya bersyukur Tuhan, bersyukur untuk sore Mu yang damai. Sore yang teduh, terimakasih Tuhan, karena telah menciptakan sore, karena siang terlalu panas dan silau, terimakasih Tuhan telah menerbitkan sore sebelum malam karena malam sangat dingin jika Engkau hadirkan bersebelahan dengan siang.

Terimakasih Tuhan, untuk menciptakan sore yang Engkau jadikan sebagai kolaborasi hangatnya siang dan teduhnya malam ...

Sabtu, 19 Februari 2011

Sometime we just don't know what it'd be like. We'd stop it pain, continue it hard or starting new doubt.
Life life lie pain died.
So what happen with them?
Are they didn't remember the time when they're fell  in love each other?
They hurt each other. Me, them. I do never being in home again... I miss you all, Ma, Pa. Just be good okay?