Minggu, 02 Desember 2012

Halusinasi yang terlintas habis sholat dzuhur tadi...

Berhubung saya orangnya suka lupaan, dan intensitas kelupaan saya lebih besar dari khayalan saya maka tadi habis sholat dzuhur pas berdoa sempet kepikiran pengen bikin tattoo di telapak tangan. Iya beneran deh, pengen biar pas lagi doa gitu saya nggak kelupaan minta sama Allah apa aja yang mau saya wujudkan dalam sisa hidup saya ini. Tattoo huruf arab nama ALLAH dan Kabah di telapak tangan kanan, terus di telapak tangan kiri list doa-doa yang mau saya utarakan sama Allah...
Bisa nggak sih bikin tattoo di telapak tangan??? Kalo bisa, ada nggak bahan yang nggak diharamkan dalam ajaran islam, misalnya pacar arab gitu??? Mohon info yaa teman-teman??? 

Hipotesis

Assalammualaikum...
Sudah lama gak nulis di blogspot. Karena punya blog di stasiun lain dan blog harian berjudul 'skripsi' di laptop jadi blog yang ini agak gak keurus ya... Alesan :p
Ternyata setelah lama gak buka blogspot fitur-fiturnya banyak yang berubah yaa? But anyway, hidup saya nggak banyak berubah, dari segi aktivitas maupun pola pikir. Pola pikir yang mengalami degradasi, lebih tepatnya. Dulu waktu masih jadi pengurus himpunan kayaknya sering banget diskusi tentang karakter dan bagaimana cara membangunnya... Yang jadi masalah sekarang adalah saya sendiri lupa bagaimana membangun kembali karakter yang semakin lama semakin memudar... Ehm misalnya karakter idealis seorang mahasiswa? Dulu kami menggaris bawahi dua kemungkinan mengapa karakter 'kemahasiswa-geologi-an' di jurusan kami susah untuk dibangun, penjilatan dan pembunuhan karakter. Penjilatan misalnya adalah menghasut kakak tingkat agar tidak terlihat terlalu bersalah. Pembunuhan karakter misalnya menutupi karakter sesama demi terciptanya karakter baru yang sama sekali tidak diharapkan. definisi ini perlahan terkikis dengan sendiri, mulanya mungkin karena kurangnya rasa memiliki terhadap apa yang kami sebut dengan karakter, berikutnya adalah kurangnya transfer idealisme dan diakhiri dengan kehilangan jati diri.
Tapi ternyata yang ingin saya tulis saat ini bukan mengenai kesalahan melestarikan jati diri... Karena saya sendiri sedang krisis jati diri. Jati diri sebagai mahasiswa tingkat akhir (lebih dikit), sebagai teman, anak dan anggota keluarga. Ooh mungkin masalah pertama dan terakhir yang perlu di garis bawahi.

Hidup itu keras!
Iya keras, seperti saya keras kepala. Sebenarnya kalau mengenai keras kepala yang sudah saya miliki sejak beberapa hari setelah saya lahir, saya memiliki dua hipotesis. Yang pertama tentu saya genetik, nggak usah diperdebatkan yang mana dari mama atau papa yang memberi saya gen keras kepala, dari 10 tahun pisah ranjang saja sudah bisa ditebak. Yang kedua adalah perkara nama, Fermi diambil dari unsur nomor atom 100 Fm (fermium), kalo nggak salah itu termasuk salah satu unsur radio aktif. Ada hubungannya nggak sih sama keras? Gatau juga yah, selama kuliah di geologi saya belum pernah nemu referensi tentang unsur itu ditemukan di mineral macam apa di batuan apa. Emang saya juga nggak begitu interest sih sama nama ini... Just a name anyway... Iya hidup itu keras, banget. Kadang untuk mencari alasannya pun kita gak perlu. Ngapain sih nyari-nyari alasannya? Yang saya tahu, sebelum saya sadar saya sudah dewasa saya sudah tidak bisa merasakan apa yang disebutkan orang seperti di sinetron. Whatever semua orang bilang 'santai' kenyataannya hidup saya nggak pernah se-santai yang bisa mereka bilang. Pengalihan demi pengalihan sudah saya lakukan, mungkin gak sampai se-ekstrim anak-anak nakal pada umumnya. Tapi kalau dibilang saya anak baik sih ya nggak juga ah...

Ingin menyerah? Sering.
Nyalahin orang lain? Gak bisa.
Kabur? Udah, tapi nggak berhasil.
Gak ngambil pusing? Udah juga, tapi nggak berhasil juga.
Ujung-ujungnya saya selalu mentok pada keharusan seorang anak untuk patuh dan berbakti sama orang tua. Ujung-ujungnya saya selalu menyerah pada pilihan saya sendiri, dengan sebuah harapan yang ingin saya lihat sebelum saya atau mereka pergi dari dunia ini. Mungkin juga nggak, mungkin juga saya cuma ingin mengembalikan zona nyaman saya. Mungkin juga karena mungkin juga adalah satu-satunya jalan keluar. Jalan keluar dari kebuntuan... Yang saya lihat di sinetron-sinetron, Ayah itu pulang kantor jam 5 sore. Yang saya lihat kalau Ayah dan Ibu bertengkar hebat pasti terjadi sesuatu dengan mereka, mereka bermasalah. Itu yang sinetron ajarkan pada saya. Ya, saya berputar-putar pada kenangan itu. Sampai suatu saat setelah perang dunia rumah tangga pecah dirumah saya ingat pernah berdoa pada Allah "silakan ambil apa saja dari saya asalkan mama dan papa kaya dulu lagi" Allah menjawab beberapa tahun kemudian saya divonis MDR TB dan harus berhenti kuliah 1 tahun. Allah mengambil waktu produktif saya sebagai manusia selama 1 tahun... Dan saya melihat (kepura-puraan) rumah tangga yang seperti dulu, damai. Setelah saya sembuh, damainya pun hilang. Allah sedang mengajarkan saya sesuatu... 
Terus menerus saya berusaha untuk membuat apa yang diajarkan sinetron-sinetron tahun 90'an itu jadi kenyataan, iya saya hidup dalam khayalan tingkat tinggi saya. Haaaahhhhh lalu setelah berputar-putar di khayalan tingkat tinggi saya, akhirnya saya selalu tersadar lagi bahwa saya dan mereka punya hidup masing-masing, meskipun kami terhubung tapi saya tidak bisa memaksa mereka menyembuhkan trauma saya terhadap kalimat-kalimat negatif yang selalu saya dengar setiap hari, saya tidak bisa memaksa mereka memenuhi permintaan saya untuk bersama-sama hidup seperti sinetron-sinetron tahun 90'an itu. Banyak anak-anak lain yang berdoa untuk hidup seperti saya, makan 3x sehari, bisa sekolah, kuliah, terus masih pantas kamu mengeluh? ENGGAK.

Pada siapa saya meminta bantuan lagi kalau bukan Allah?
Apakah Allah bosan mendengar saya meminta bantuan Nya? Tidak mungkin. Mungkin saya lah yang bosan meminta bantuan Nya... Mungkin setelah selama ini saya mencoba, saya lah yang perlahan mengikis khayalan tingkat tinggi saya. Mungkin inilah yang disebut krisis jati diri, bukan pembunuhan karakter, tapi self character killer. Ya, waktu. Ternyata katastropis yang mengubah bentuk bumi secara tiba-tiba dan uniformitarisme yang berlangsung perlahan dalam waktu yang sangat lama pun variabel pengontrolnya adalah waktu. Akankah waktu bisa menjawab? Mungkin iya, mungkin tidak. Saya juga punya dua hipotesis untuk apa yang harus saya lakukan sekarang dan seterusnya...
1. Berhenti berpikir bahwa kamu dapat mengembalikan waktu, berdoalah semoga kamu memiliki keluarga sendiri yang lebih baik di masa depan
2. Teruskan hidupmu, susah-senang, jelek-bagus bukan untuk mereka, tapi untuk dirimu sendiri. DIRIMU SENDIRI...


Buat mama dan papa,
ana selalu sayang kalian, paling sayang kalian!

Minggu, 27 Mei 2012

Sekedar pengen curhat

Udah semingguan ini saya dibikin pusing sama Image enhancement dan Principle component analiysis daerah TA saya besok... Ampun dah, walopun udah merhatiin dosenku selama 2sks/1 smester kayanya Remote Sensing itu kalo enggak praktikum tuh nihil. Jadi suka sirik sama Albab dan Aldila (Abah) yang bisa dengan sendirinya (ya walopun mereka menghabiskan lebih banyak waktu belajar dari saya). Jadi nyesel deh, kenapa kalo liburan kerjaannya cuma main-main doang dan nonton film, kenapa gak belajar software-software geologi aja! Hahaha
Yaudah, udah kejadian juga. Semangat Hell, tujuan kamu (kalian: albab dan abah) kan baik, biar Geologi Undip referensinya gak itu-itu aja (minyak lagi, batubara lagi, geotek lagi)... Walopun kita ber-3 takes more time untuk lulus dengan judul spektakuler (amiinnnn...) semoga itu sebanding dengan usaha kita dalam ngasih daftar pustaka yang lebih beragam lagi buat almamater, walopun ujung-ujungnya adalah explorasi (dan bukankah itu yang harus kita perbaiki dalam kualitas maupun kuantitas?) tapi metode yang kita lakukan semoga memberi inspirasi baru buat adik-adik Magmadipa besok... Amiin. Semangat hell, pasti bisa!
GO Pre-Tersier GO!

Minggu, 11 Maret 2012

Untuk kesekian kalinya, harus merelakan tidur tertunda karena niat ingin lihat si 'dia' di dunia maya. Tiba-tiba aja kangen kamu. Walaupun batuk dan kantuk sudah merajalela, baiklah cinta butuh pengorbanan! #eaaa

Demi nafas yang setiap detik ku hela. Jika dijumlahkan mungkin hasilnya merupakan integral dari sebuah bilangan berpangkat. Aku tidak ingin menyatakan cintaku dalam bilangan dan angka. Tidak seperti dulu saat aku 'sakau' akan mu. Hari ini adalah harapan dan esok masih misteri. Seperti itulah kamu, dulu, sekarang, dan mungkin beberapa hari ke depan. Hal yang sama, waktu yang berbeda, aku sayang kamu.

Kita pernah menjaring mimpi bersama. Walaupun kita sebut itu 'cinta monyet' saat SMA setidaknya untukku itu adalah sesuatu yang masih aku simpan rapi, sampai saat ini. Saat itu, mungkin kamu heran dan sering bertanya Why so serious? Dibalik semua sikap tertutupmu yang kadang bikin aku semakin gila, aku tahu sesuatu, mungkin kesalahan yang kamu buat saat itu membawamu semakin membenciku. Pertanyaan yang datang bersamaan dengan rasa cinta mungkin adalah "Apakah dia orang yang tepat?" dan "Apakah waktunya tepat?" mungkin kamu melanggar salah satunya, atau mungkin keduanya. Atau kita memang sama-sama salah. Terburu-buru adalah tindakan syetan. Ooh God!

Aku, dan kamu sama-sama telah menjalani keidupan masing-masing. Pacar-pacarmu dan pacar-pacarku, mereka mengisi waktu kita masing-masing. Dan memiliki sebagian hati kita. Tentu saja aku tidak menyalahkan siapapun. Tidak juga waktu. Karena aku bersyukur, walaupun aku tidak tahu apakah hatimu sudah direbut wanita lain, aku masih menyimpan semua dengan rapi. Tinggal aku berikan padamu di waktu yang tepat, entah kapan. Ya, aku berharap waktu benar-benar tersedia untukku...
Biar kamu tahu, aku tetap menulis tentangmu. Di buku harianku, di hatiku, di depan pacarku, agar ia tahu siapa saingan terberatnya!
Good afternoon my beautiful disaster.

Selasa, 06 Maret 2012

Nona manis yang sangat beruntung.

Kenapa saya memilih untuk publish tulisan ini duluan dibanding file-file docx yang udah numpuk di folder siap publish? Bermula ketika saya iseng buka twitter, setelah seminggu lamanya, dan mendapati bahwa SEDIH itu adalah saat gak sengaja buka timeline DIA dan mendapati DIA dengan DIRINYA yang sepertinya pernah menjadi sepintas perbincangan kami, dulu.
Apa mau dikata, saat ini saya adalah bukan apa-apa.
Apa mau dikata, mungkin saya terlalu polos.
Terlalu polos untuk berpikir bahwa pacar tidak akan marah ketika kita berhubungan baik dengan mantan-mantan kita. Bahwa pacar akan baik-baik saja ketika salah satu mantan menjadi kakak sekaligus sahabat terbaiknya. Saya terlalu naif untuk berpikir bahwa dia baik-baik saja saat itu. Justru itu yang saya harapkan... Dia baik-baik saja.
Dan saya mulai berpikir terbalik, bagaimana jika saya di posisinya? Apakah saya akan sabar dan ikhlas menunggu pacar saya yang belajar jauh di sana, tanpa penjagaan, dengan komunikasi terbatas (saya gapunya BB), kondisi dekat dengan mantan pacar dan mimpi pacar saya yang teramat tinggi untuk mengejar double degree dengan skripsi bilingual dan target menjadi peneliti, apakah saya sekuat itu? Mungkin ya, mungkin tidak.
Dalam kasus ini, saya memilih tidak. Karena kenyataannya dia memang tidak sanggup... Menungguku hingga aku benar-benar bisa memberikan diriku untuk nya. Sampai aku selesai dengan semua ego ku.

Akhirnya tepat 3 minggu yang lalu dia mengirim pesan singkat yang berisi
"maaf karena mungkin gabs nepatin janji yang dulu, dan gakan bisa kya dulu lagi. Tapi silaturahmi harus ttep dijaga"
dan saya terlalu polos untuk langsung menyadari sesuatu. Hey! Aku kenal kamu gak sehari-dua hari. Hampir 7 tahun, dan kamu gak pernah sama dengan laki-laki manapun yang dekat dengan saya. Bagiku itu adalah kalimat penghalus untuk bilang: "saya mau jadian sama cewek lain, sorry!"
Tepat setelah itu, dunia saya berhenti berputar. Sedetik, dua detik, tiga detik............

Tanganku kaku untuk mengetik sms balasan.
Dengan apa aku haris membalas? Marah, sedih, bohong, jujur, inocent? Saya memilih jalan terakhir, adanya apa. "Ana bahagia asal kamu bahagia, by this message i am no longer waiting for u. But then u has to know that i love u, as a simple basic thing i always do."

Beberapa hari yang lalu, saya sempat sms dia meminta maaf karena lancang bilang kangen. But that's sound realy me. I miss him so much, in my very soul i shout out his name loudly.
Dan saya sadar, se-sadar-sadarnya, detik itu, hari itu, saat saya berkata "Ana bahagia asal kamu bahagia..." adalah kebohongan besar. Bahagia ketika orang yang kamu sayangi bersama orang lain adalah BULSHIT!
Dan "I am no longer waiting for u" hanyalah kata penyemangat agar kamu gak goyah dengan pilihanmu. Agar kamu semakin yakin dengan apa yang kamu pilih, nona manis yang sangat beruntung :)
I saw your picture in her timeline, you both cute! Hehe

You deserve better than me.

Kamis, 22 Desember 2011

Back to Desember

I'm so glad you made time to see me. How's life? Tell me how's your family.
I haven't seen them in a while. You've been good, busier than ever,
We small talk, work and the weather, Your guard is up and I know why.
Because the last time you saw me, Is still burned in the back of your mind.
You gave me roses and I left them there to die.

So this is me swallowing my pride, Standing in front of you saying, "I'm sorry for that night,"
And I go back to December all the time. It turns out freedom ain't nothing but missing you.
Wishing I'd realized what I had when you were mine. I'd go back to December, turn around and make it all right. I go back to December all the time.

These days I haven't been sleeping, Staying up, playing back myself leavin'.
When your birthday passed and I didn't call. And I think about summer, all the beautiful times,
I watched you laughing from the passenger side. Realized that I loved you in the fall.

And then the cold came, the dark days when fear crept into my mind. You gave me all your love and all I gave you was "Goodbye".

So this is me swallowing my pride Standing in front of you saying, "I'm sorry for that night."
And I go back to December all the time. It turns out freedom ain't nothing but missing you,
Wishing I'd realized what I had when you were mine. I'd go back to December, turn around and change my own mind... I go back to December all the time.

I miss your tanned skin, your sweet smile, So good to me, so right
And how you held me in your arms that September night --
The first time you ever saw me cry.

Maybe this is wishful thinking, Probably mindless dreaming, But if we loved again, I swear I'd love you right.

I'd go back in time and change it but I can't. So if the chain is on your door I understand.

But this is me swallowing my pride Standing in front of you saying, "I'm sorry for that night."
And I go back to December...
It turns out freedom ain't nothing but missing you, Wishing I'd realize what I had when you were mine.
I'd go back to December, turn around and make it all right. I'd go back to December, turn around and change my own mind ... I go back to December all the time.
All the time.

"Mine"

(Taylor Swift)


You were in college working part time waitin’ tables
Left a small town, never looked back
I was a flight risk with a fear of fallin’
Wondering why we bother with love if it never lasts

I say "Can you believe it?
As we’re lying on the couch?"
The moment I can see it.
Yes, yes, I can see it now.

Do you remember, we were sitting there by the water?
You put your arm around me for the first time.
You made a rebel of a careless man’s careful daughter.
You are the best thing that’s ever been mine.

Flash forward and we’re taking on the world together,
And there’s a drawer of my things at your place.
You learn my secrets and you figure out why I’m guarded,
You say we’ll never make my parents’ mistakes.

But we got bills to pay,
We got nothing figured out,
When it was hard to take,
Yes, yes, this is what I thought about.

Do you remember, we were sitting there, by the water?
You put your arm around me for the first time
You made a rebel of a careless man’s careful daughter
You are the best thing that’s ever been mine.

Do you remember all the city lights on the water?
You saw me start to believe for the first time
You made a rebel of a careless man’s careful daughter
You are the best thing that’s ever been mine.

Oh, oh, oh

And I remember that fight
Two-thirty AM
As everything was slipping right out of our hands
I ran out crying and you followed me out into the street
Braced myself for the "Goodbye"
‘cause that’s all I’ve ever known
Then you took me by surprise
You said, "I’ll never leave you alone."

You said, "I remember how we felt sitting by the water
And every time I look at you, it’s like the first time
I fell in love with a careless man’s careful daughter
She is the best thing that’s ever been mine."

Hold on, make it last
Hold on, never turn back

You made a rebel of a careless man’s careful daughter
You are the best thing that’s ever been mine.
(Hold on) Do you believe it?
(Hold on) Gonna make it now.
(Hold on) I can see it,
(Yes, yes) I can see it now.