Jumat, 24 Juni 2011

Jalan panjang menuju 'akhir' part#1

Sudah sekian lama nggak ngobrol dan curhat sama papah tercinta, tentang kampus, temen-temen, tentang kegiatan sehari-hari, dan gimana badan saya bisa 'bengkak' diakhir semester yang katanya agak menggila ini. Kemarin, bbrp hari yanglalu, saya nyempetin pulang ke rumah, Bandung buat ngurus bbrp hal menyangkut kuliah dan ke-labil-an emosi saya. Dua hari, itu sudah cukup.

Dalam obrolan saya dengan papah, yang sudah kaya sahabat baik bagi saya, walopun dia kebanyakan nggak ngerti ttg major kuliah saya, tapi beliau dengan bijak mendengarkan keluh kesah saya dan dengan bijak menjawab kebingungan saya tentang, "setelah lulus mau jadi apa?, harus KP dan TA dimana?, Judul TA yang mengarah ke cita-cita stlh lulus nanti?" hmft.

Belakangan saya memang banyak dipusingkan dengan masalah itu. Maklum sudah semester VI, yang kalo di Geologi berarti udah termauk injury time, karena tahapan menjelang lulus di'geder' di semester-semester ini dan setelahnya mulai dari Pemetaan Geologi Bayat dan Mandiri (Pegel), Kerja Praktek (KP), Kuliah Kerja Nyata (KKN), dan tentu saja yang paling akhir adalah Tugas Akhir itu sendiri.
Meskipun pikiran saya sekarang terfokus buat UAS dan Pemetaan Mandiri, tapi tetap saja urusan KP dan TA menjadi tempat nomer 2 yang menyita pikiran. Kenapa, kadang mahasiswa Geologi menyangkut pautkan antara KP dan TA dengan bidang apa yang mereka ambil pasca lulus, apakah pertambangan seperti kebanyakan sahabat cowok saya, apakah perminyakan seperti anak2 geologi lainnya, apakah geologi teknik seperti harapan KAjur, apakah Airtanah untuk pengabdian masyarakat, dan apakah memenuhi ajakan nurani untuk menjadi peneliti dan dosen seperti nurani saya, dan harapan papah saya.

"75% dalam hati bapak, bapak ingin kamu jadi dosen. Tapi usahakan untuk sekolah S2 jangan dibebankan ke orang tua." Yang ini sangat bertentangan dengan harapan mama:
"Lulus itu kerja dulu 2-3 tahun cari uang yang banyak buat nyenengin orang tua, sodara, terus nikah."
Pernyataan ini kemudian ditentang papah lagi:
"Eeeh kamu itu. Asal kamu tau, bagi bapak, menyenangkan, dalam tanda kutip, orang tua itu nomer sekian, yang penting kebahagiaan kamu sendiri. Kebahagiaan itu datang dari mana, dari kenyamanan kamu menjalani apa yang kamu jalani, dari kecintaan kamu. Nah makanya urusan KP dimana, TA tentang apa, Judul dan sebagainya itu bapak serahkan sama kamu, kamu yang lebih mengerti, asal menurut kamu itu baik dan kamu sukai." (Saya masih ingat betul kata-kata papah!)

Menjadikan hati saya lega? Tidak.
Tapi kalimat-kalimat tadi membuat hati saya lapang, InsyaAllah...
Harapan mamah dan papah... adalah perintah buatku! Untuk menjalani semua dengan ikhlas, tapi tidak melupakan ambisi dan cita-cita. Menjalani semua dengan penuh keyakinan, tapi jangan menjadi takabur dan ambisi yang berlebihan. Terimakasih untuk wawasan yang selalu terbuka lebar untuk puterimu ini, untuk makanan sehat yang selalu tersaji setiap aku pulang, untuk peluk dan cium hangat saat menjemputku datang dan mengantarku kembali... Walaupun jalanku masih panjang, aku rasa aku tidak akan pernah jengah dan menyerah karena mamah dan papah ku yang hebat!

Maka judul ini saya dedikasikan untuk mamah dan papah saya yang juara #1!
I wish a healthy, wises and long live for you both, to see me gain! Thank you, Allah..

Akhirnyaaaa

Akhirnya saya ingat akun blogger dan pasword saya. Itupun setelah ngubek2 catatan hidup, ternyata semua akun dan password yang saya punya tercatat di sana, dan itu sudah sekitar 2bln yang lalu, entah kenapa, saya lupa! Hahahaha :D
*kedodolan helna #2: lupa akun dan password. Kedodolan #1 adalah lupa pin KTM dan ATM. :D

Selamat menulis kembali, serdadu hujan!

Minggu, 29 Mei 2011

Kayanya setiap orang punya kebiasaan dan pemahaman tersendiri soal bagaimana caranya menjalani hari-hari mereka. Weekdays ataupun weekends. Setiap hari, setiap jam, setiap menit dan detik buat setiap orang adalah beda... Itu pasti. Sepasti perbedaan itu.
Saya pernah diajari oleh seorang Dosen Filsafat Ilmu Pengetahuan, bahwa manusia adalah makhluk yang bebas. Bebas hidup dimanapun, bebas melakukan apapun, berbicara apapun. Apa yang membuat manusia sebebas itu? Manusia berpikir dan merasa. Manusia seperti sistem dengan nalar dan esesnsial sendiri. Kita punya otak dan punya hati. Maka kita berpikir dan kita merasa. Dua hal itu, sebagian besar yang membuat manusia jadi pribadi yang bebas. Apalagi kalau manusia itu berpikir kritis... Dan merasakan dengan sisi paling sensitifnya...

Maka wajar jika kita berbeda pendapat satu sama lain. Wong pikiran sama hati kita ini kadang nggak sinkron juga kok. Yang ini baru dilema bathin.. Nah lebih dilematis lagi kalau apa yang telah kita pikir, kita rasakan itu nggak bisa kita utarakan, atau kita perlihatkan dalam bentuk visual damupun artikulasi. Kadang ada saja kan orang yang jago berpkir dan merencana sesuatu tapi nggak bisa mengartikulasikannya di depan orang lain. Ada juga yang nggak bisa memvisual kannya lewat tindakan. Banyak kok yang kaya gitu, itu mungkin karena mereka emang jenis orang yang introfert dan cenderung pasif dalam tindakan tapi aktif dalam berpikir. Ada juga tipe yang bisa menvisualkannya pada orang-orang tertentu saja... entahlah saya bukan ahli psikologi, dan filsafatpun sempat jadi jurusan 'wanna be' saya dulu... 

Yang mau saya bilang malam ini adalah, saya sudah lama nggak ngeblog. Bukan karena kurang ide atau kurang bahan untuk ngeblog, otak saya ini full (baca:sembrawut) sama ide-ide dan pesan-pesan yang ingin saya upload ke dunia luar... Hanya saja saya termasuk tipe orang yang aktip berpikir tapi tidak dalam visualisasi... Mohon maaf, karena saya juga bukan tipe orang yang hobi membahas sesuatu sampai detail kalau itu gada interestnya dengan saya. Hehehe

Sabtu, 23 April 2011

Moment #1

Dan, memang saya ga bisa ngasih janji yang banyak sama kamu. Saya bakal sayang sama kamu sampai bla bla bla... Saya akan ada di sisi kamu bla bla bla... Saya hanya mengaktifkan sendi-sendi dalam rongga dada saya, yang di sana saya biasa merasa malu, sakit hati, tidak enak tertawa, merasa bersalah dan sebagainya.

Atau, kamu selalu jadi 'hero' buatku. Aku seperti jadi 'just helna' dimanapun dan kapanpun... Atau maaf karena aku terlalu kekanak-anakan sampai kadang terlalu cuek untuk urusan-urusan yang bersifat 'dewasa' maaf kalau hubunganku sangat baik dengan mantan-mantan pacarku (aku tidak hanya punya satu mantan sayangnya), dan itu membuatmu (pernah) sedikit gerah... Aku berhubungan sangat baik dengan mereka, yapp! Ini bukan alasan, bukan pernyataan pengakuan, aku ingin kamu mengerti bahwa sayang bukan berarti harus sms-telpon-ym tiap hari setiap saat. Kita sudah dewasa dan tidak seharusnya kita memaksakan cinta itu menjadi dewasa bila kita tidak ingin...
Cinta kadang-kadang manja dan kekanak-anakan, kadang pahit seperti musuh yang menyindir, kadang butuh bnyak pemahaman dan kepedulian seperti kita adalah pekerja sosial :D
Cinta itu warna-warni! Dan tidak harus diwarnai setiap hari, kita butuh jeda. Dalam buku pun ada jeda, setiap kita bicara pun ada jeda. Saat kita hidup, tidur adalah jeda. Kadang warna putih atau tidak berwarna dalam hidup kita akan membuat kanvas 'hidup' kita jadi lebih indah dan 'nyeni' !
Yappp! Living life, life the love!

Sabtu, 02 April 2011

Dalam hati saja. #2

Dimanapun aku berada, aku selalu bisa merasakanmu.
Dan dimanapun kamu berada, kamu tetap berada persis diujung sana. Disitu.

Kamu kadang tidak menggubrisku, karena kamu terlalu asik bermain. Ya, kita sama-sama sperti anak kecil!
Tapi kamu seringkali membuatku menjadi orang paling beruntung di sini. Ya, kamu. Just the way you are... Meskipun aku tidak pernah tau apa yang kamu terima, pikirkan, dan rasakan di sana.

Terimakasih. 

Jumat, 01 April 2011

Dalam hati saja.

(Terinspirasi dari seorang adik)

Aku sedang ingin sekali menulis. Dari kemarin sore yang hujan lebat menjelang olahraga itu... Batinku terhentak saat aku melihatmu disana, dengan nya. Ooh dalam hatiku. Aku cukup tau kamu, mengenalmu sejak beberapa tahun yang lalu, kamu dan aku saling menyaksikan saat kita berdua jatuh cinta untuk pertama kalinya... (Ooh mungkin itu hanya untukmu...)
Dan setelah dihajar dengan data log dan bbrp jam tidak berjumpa dengan kamu, aku merasa aku hanya akan menulisnya. Tidak dalam sms seperti semalam *some text missing* atau, "ayoo semangat!!" Aku hanya akan menuliskanmu, diamanapun. Karena walau bagaimana pun juga, kamu dan aku tidak mungkin bersatu.

"Apa kabar? Ak skrg jd jarang ngobrol sama kamu sih..."

Kalau kamu ingin tau kebenarannya. Kalimat tadi adalah kepanjangan dari "Aku kangen sama kamu." Aku gerah melihat kamu mengantarnya datang ke kampus kemarin sore. Hatiku sakit saat kamu melirik ke dalam gedung dan kamu 'mencari' entah siapa di dalam sana. Aku terlalu membiarkan perasaanku 'tertutup rapi' sejak dulu sebagai seorang kakak, teman, dan partner kelompok. Padahal, kamu orang yang secara tidak sadar, adalah orang yang aku sms kalau aku stuck. Kamu pernah mengantarku pulang-pergi saat hujan di malam hari...
Bukan karana itu aku menyukaimu. Aku sendiri tidak tau perasaan ini apa. Yang jelas saat ini aku senang melihatmu 'tidak dengan siapa-siapa' aku senang melihatmu tertawa walau hanya dari jauh, aku senang menerima sms mu, dan balasan-balasan dari kamu, walaupun suatu saat kamu akan membalas "aku harus pergi" dan atau hanya dengan jawaban "oke" hmmm...

Aku tidak akan berhenti menulis tentangmu. Tentang kebingunganku akan perasaanku. Kekhawatiranku akan apa yang sesungguhnya kamu pikir dan rasakan denganku. Aku tidak akan berhenti di sini, karena aku yakin kamu salah satunya! Aku akan tetap menulismu, akan tetap memperhatikanmu dan 'menyamar' menjadi seseorang untuk merasa bahagia melihatmu bahagia dan memastikan kamu baik-baik saja.

"How's your day?"
"Terbangkan saja aku ke udara, supaya aku bisa berkata dengan lantang bahwa aku cemburu!
(Dan aku sayang kamu.)"




Kepada semua orang, yang mencintai. Islam, Khatolik, Kristen, Hindu, Budha, Ahmadiyah...Whatever!

Jumat, 04 Maret 2011

Aku memang (silakan isi sendiri)




Aku sedang tidak ingin menulis, tidak juga mendengarkan lagu favoritku tentangmu.
Aku sedang tidak ingin berpikir apapun, dan tidak ingin dipikirkan siapapun.
Aku hanya ingin mendaki, sesukaku. Makan, sesukaku. Tidur, sesukaku. Dan menangis sejadi-jadinya.
Aku ini siapa? Siapa aku dan aku siapa buatmu?
Kamu itu siapa? Dan mau apa denganku?

Aku aku aku...

Aku sedang tidak ingin berpikir dan dipikirkan oranglain.
Aku ingin ini, ingin itu tanpa membuat orang lain sakit hati.
Apakah harus hidup dengan jalan Sufi untuk tidak menyakiti dan disakiti?
Aku ingin pergi, sejauh-jauh aku bisa... Tapi nantinya, aku pasti lupa jalan pulang. Dan seperti biasa, aku hanya ingat letaknya, detail, tanpa ingat jalannya menuju ke sana.

Kamu, kamu, kamu...

Aku sedang tidak ingin berpikir dan dipikirkan oranglain.
Aku hanya ingin kamu, saja. Tidak dalam keadaan seperti ini.
Mungkin benar kata mereka, mungkin benar mimpiku...
Aku tidak akan pernah menjadi milik siapapun, kecuali diriku sendiri.
Dan aku bersyukur, untuk hidupku saat ini, yang lalu, dan yang akan datang.

Aku memang egois, dan aku senang.
Aku (hanya) menyayangi diriku sendiri!